0 0
Read Time:1 Minute, 46 Second

SAMARINDA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan curah hujan di sebagian besar wilayah Kalimantan Timur masih rendah. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada Dasarian I September 2026 atau periode 1–10 September.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menyebut curah hujan diprediksi berada pada kisaran 0–50 milimeter. Angka tersebut masuk dalam kategori rendah.

Meski curah hujan rendah, peluang terjadinya hujan di Kaltim masih berada di atas 90 persen. Namun, sifat hujan pada periode tersebut didominasi kategori bawah normal.

Sebagian Besar Kaltim Alami Hujan Rendah

Prediksi BMKG menunjukkan kondisi hujan rendah mencakup hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Wilayah itu meliputi Samarinda, Balikpapan, Bontang, Paser, Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Penajam Paser Utara.

Sementara itu, sebagian kecil wilayah Mahakam Ulu dan Kutai Barat masih berpotensi mengalami hujan lokal. Hujan tersebut dapat disertai kilat dengan durasi relatif singkat.

Secara nasional, BMKG juga memprediksi sekitar 83,11 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada Dasarian I September. Adapun sekitar 16,86 persen wilayah diprediksi mengalami hujan kategori menengah.

Paser Catat 39 Hari Tanpa Hujan

Selain curah hujan, BMKG memantau kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) di Kalimantan Timur. Durasi HTH di sejumlah wilayah berada pada kategori sangat pendek hingga sangat panjang.

Kondisi sangat pendek berada pada rentang 1–5 hari. Sementara itu, kategori sangat panjang mencapai 31–60 hari.

Batu Enggau di Kabupaten Paser mencatat durasi terpanjang. Wilayah tersebut telah mengalami 39 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian masyarakat. Sebab, periode kering yang panjang dapat meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air.

BMKG Ingatkan Potensi Titik Panas

BMKG mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kering berlangsung. Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya potensi titik panas atau hotspot.

Selain itu, masyarakat diminta menggunakan air secara hemat. Pelaku sektor pertanian juga perlu menyesuaikan penggunaan air dengan kondisi cuaca.

Aktivitas pembakaran lahan harus dihindari karena dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Terlebih, kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar.

BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan iklim di Kalimantan Timur. Masyarakat juga disarankan mengikuti informasi resmi BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %